Background

Beberapa aspek penting yang menjadi tantangan saat ini dan ke depan adalah; di satu sisi, rasio jumlah entrepreneur yang masih rendah, kesempatan dan lapangan kerja baru yang relatif terbatas, dan dominasi produk impor di pasar dalam negeri sementara pada sisi lain yang bersamaan, kita akan mengalami surplus demografi dan memasuki pasar bebas. Sehingga menjadi keniscayaan bagi segenap generasi bangsa untuk lebih menfokuskan diri bagi peningkatan spirit dan pengembangan jaringan wirausaha/pengusaha (entrepreneurship’s network) untuk memperkuat daya saing bisnisnya sebagai alternatif solusi dalam rangka penciptaan lapangan dan penyerapan tenaga kerja baru, penguasaan market domestic demi kemajuan ekonomi, bisnis dan sosial serta kemandirian sebagai bangsa. Dalam hal ini, Sektor Usaha Kecil, Mikro dan Menengah/UMKM (Small Medium Enterprise-SME) mempunyai peran sentral dan menjadi pilar utama,  disamping Perusahaan-perusahaan besar pemerintah dan swasta nasional yang telah berkontribusi aktif dalam perjalanan entrepreneurship di Indonesia.

 

Entrepreneurship saat inipun tengah berproses menjadi arus gelombang yang terus menerus diperkenalkan, dibangun dan diperkuat melalui lembaga pendidikan dan pelatihan formal maupun media informal lainnya yang pada gilirannya harus diakomodasi dan disinergikan membentuk bargaining power secara konkrit dan masif baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya. Secara kuantitas, jumlah entrepreneurs dalam skala UMKM/SME (koperasi, PT, CV, Firma, Usaha Dagang Perseorangan dan Home Industry) memang sangatlah besar, tapi belum mampu bersinergi optimal dan bahkan sedikit dari mereka yang mampu eksis dan establish sebagai entitas bisnis. Faktor penyebabnya sangatlah bervariatif  mulai dari faktor internal dan eksternal, hambatan dari individu, entitas atau komunitas badan usahanya hingga faktor keterbatasan terhadap akses permodalan, pemasaran, pemanfaatan teknologi yang berpengaruh langsung bagi peningkatan kapasitas, kualitas dan performansi bisnisnya.

 

Berangkat dari kondisi ini, menghantarkan kami untuk membantu memberikan jasa; Entrepreneurs Training, Coaching/Counselling, Facilitating & Business Integrating secara organik dan berkesinambungan kepada segenap UMKM di Indonesia dengan menformulasikannya kedalam “MOFARS Enterprise”. Formulasi ini dibangun berdasarkan kesadaran, pertimbangan dan pengalaman bahwa suatu bisnis atau badan usaha akan mampu hidup, bertahan, berkembang dan meraih kesuksesan bilamana dapat mengimplementasikan berbagai faktor pendukungnya serta bersinergi satu sama lain dalam proses metamorphis bisnisnya.

 

Beberapa faktor internal dan eksternal yang menjadi pendukung/penghambat berikut alternatif solusinya, adalah;

  1. Faktor Internal:

Yakni membangun kesiapan mental keberanian dan keyakinan, kekuatan mindset dan pembentukan karakter sebagai entrepreneur, peningkatan kemampuan leadership dan pengembangan keterampilan pengelolaan bisnis  baik secara strategik, managerial maupun operasional.

 

Bila factor-faktor internal ini dikuantifisir, maka kontribusi masing-masingnya dapat diilustrasikan sebagai berikut;

  • 65% keberhasilan bisnis bermula dari kesiapan mental; keberanian memulai usaha dan menanggung risiko kegagalan, kekuatan visi dan misi, kemampuan leadership, ketrampilan dan ketangguhan dalam mengeksekusi, mengelola dan mengembangkan bisnis itu sendiri.
  • 15% kesinambungan bisnis akan ditentukan oleh adanya keterampilan management bisnis seperti; pengembangan ide, keunikan dan etika bisnis, perencanaan usaha, pengelolaan SDM dan orgarnisasi, pemasaran serta perencanaan arus kas.

 

Factor-faktor internal tersebut dapat dibangun melalui sarana dan prasana seperti; seminar dan motivasi bisnis, temu bisnis dan bisnis matching antar peserta; penyelenggaraan pelatihan managemen bisnis (training, workshop dan business coach),  bagi calon entrepreneur, entrepreneur pemula dan entrepreneur dalam tahap pengembangan dalam rangka pembentukan mindset dan karakter entrepreneur; atau melalui pendampingan bisnis (coaching & counselling) dalam rangka menanamkan keyakinan diri (mindset), menerapkan strategy dan managemen bisnis (pengelolaan SDM, Produk/jasa, pemasaran dan keuangan serta business proses secara efektif dan efisien) memantabkan spiritualitas bisnis (karakter), sehingga mampu mengaktualisasikan dan mengkalkulasi kesuksesan ataupun mengemilinasi risiko kegagalan bisnis akibat “mis-mindset orientation” dan/atau “mismanagement”, disamping mampu pula bangkit dari kegagalan bisnis dengan melakukan upaya perbaikan di berbagai sisinya.

 

Dalam proses pendampingan ini, diperoleh pencerahan, motivasi, tip dan trik melakukan leveraging bisnis, financial literacy dan differensiasi bisnis dalam berbagai bentuk dan cara untuk memperkuat struktur permodalan dan human capital, maksimalisasi laba, efisiensi biaya operasional, efektifitas bisnis proses, peningkatan asset dan ekuitas badan usaha serta melakukan evaluasi dan pengendalian bisnis, dengan memperhatikan aspek regulasi dan perpajakan yang berlaku.

 

  1. Faktor eksternal:

Faktor penentu 20% lainnya, bagi kesuksesan bisnis adalah faktor eksternal yang berupa kesempatan dalam memperoleh akses terhadap modal, pembiayaan dan pinjaman, akses terhadap pasar dan jaringan komoditas, akses terhadap pemanfaatan teknologi, komunikasi dan informasi, permahaman terhadap regulasi bisnis dan perpajakan baik dalam skala lokal, nasional maupun internasional. Dalam konteks ini diperlukan adanya agen sebagai fasilitator yang membantu, membuka, memberikan, mengumpulkan dan mengorganisir (facilitating) akses-akses tersebut diatas, sehingga para entrepreneur UMKM/SME mampu melakukan akselerasi, ekspansi dan aliansi bisnis (business integrating) antara satu dengan yang lain bersinergi membangun rangkaian komunitas bisnis, memperkuat jaringan produksi dan pemasaran secara masif dan membentuk arus gelombang kewirausahaan lokal (the riding wave of entrepreneurs) yang berdampak signifikan bagi kesempatan kerja, kapitalisasi bisnis, pertumbuhan ekonomi, dan penerimaan pajak nasional.

 

Menjadi entrepeneur adalah salah satu peran hidup yang mulia, memerlukan keyakinan, kesiapan mental keberanian dan keterampilan dalam aktualisasinya. Dengan kesadaran bahwa peran hidup itu merupakan amanat ke-Tuhan-an, maka harus dipastikan bahwa manifestasi peran dan fungsinya itu dapat membawa kontribusi dan kemanfaatan seluas-luasnya bagi sesama dan lingkungannya. Karena, dengan nilai kemanfaatan itulah yang mampu menjadi magnet rezeki dan memberikan jalan quantum leap bagi kesuksesan bisnis.